Dalam beberapa bulan terakhir, kita tak putus-putusnya mendengar berita terjadinya musibah di negeri ini. Runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara di Tenggarong, putusnya Jembatan gantung di Ciwaru, banjir bandang di Pasaman, Tangse, Angin Putting Beliung di Sidrap dan masih banyak lagi, dari yang hanya korban materi saja sampai yang ada korban jiwa.
Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah, mereka yang terkena bencana tersebut, kebanyakan adalah dari golongan masyarakat kecil yang tinggal di desa-desa. Sungguh-sungguh sangat menyedihkan.
Padahal bencana-bencana ini akan terus berulang dan tidak satupun yang tahu kapan akan terjadi lagi dan dimana. Seiring dengan makin parahnya kerusakkan yang terjadi pada lingkungan. Maka akan semakin sering terjadi bencana-bencana yang tidak kita inginkan.
Memang semua ini sudah kehendak Sang Pencipta, tapi kita harus sadar bahwa kita juga disuruh merawat, menjaga apa yang sudah di ciptakan bukan merusaknya.
Sekarang coba pikir dan renungkan. Tentang semua ciptaan Tuhan yang berada di alam semesta ini selain manusia. Pernahkah kita melihat atau mendengar ada pohon yang membantah untuk ditebang, atau ada buah yang tidak mau kita petik, atau ada air yang tidak mau mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah, atau angin yang tidak mau bertiup kesuatu daerah karena daerah itu banyak orang yang jahat , atau matahari yang tidak mau terbit dan sebagainya.
Saya rasa kita sependapat jawabannya belum ada. Mereka selalu memberi tanpa pernah meminta imbalan. Begitulah adanya semua ciptaan tunduk pada Tuhan, Dan yang selalu membantah adalah manusia. Kenapa kita manusia suka membantah baik yang secara sadar maupun tidak, karena ada sesuatu pada diri kita yang tidak mau tunduk, dialah nafsu. Sang nafsu ini tidak kan pernah mengenal kata puas. Ada sebuah kata bijak kira-kira berbunyi seperti ini “ Negeri kita ini cukup kaya untuk memakmurkan seluruh rakyatnya tapi tidak kan cukup untuk memenuhi nafsu seorang yang serakah”
Sekarang kita lihatlah Negeri kita ini, banyak orang yang masing-masing hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya sendiri. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka miliki, mereka saling cakar untuk memperebutkan kekuasaan dan harta. Jeritan si ibu yang anaknya hanyut karena jembatan roboh pun mereka tidakkan peduli, karena telinga di hati mereka sudah tidak bisa mendengar lagi. Jadi akan ada banyak lagi kita dengar jeritan-jeritan berikutnya.
Untuk itu saudara, marilah kita buat apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan. Jangan berpikir harus mulai dari yang besar tapi awalilah dengan sesuatu yang kecil, karena suatu saat itu akan menjadi besar. Pohon berawal dari sebuah biji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar